Wonosobo [punya] cerita

Sepenggal Kisah Tradisi Lebaran

8 Jul 2015 - 17:22 WIB

Takbir kemenangan baru saja berkumandang. Tepat, ketika muadzin menyelesaikan bacaan adzan maghrib. Sembari mereguk teh manis untuk berbuka puasa, saya memanjat syukur dalam hati. Alhamdulillah, seluruh keluarga telah berkumpul di rumah. Semua anggota keluarga yang berdomisili di luar kota sudah mudik. Asyhari yang di Jogja. Juga Noval yang nyantri di kota Brebes. Keduanya sudah berada di rumah.

Sehabis sholat maghrib berjamaah, kami sekeluarga membaca takbir. Allahu Akbar Allahu Akbar. Berdizikir lalu berdoa. Eits….. usai berdoa, tiba-tiba Noval nampak tergesa. Ia meninggalkan tempat shalat dan pergi ke ruang tamu. Saya dan Ibu yang melihatnya hanya tersenyum. Aduhai, rupanya si adik sudah tak sabar untuk menata toples lebaran. Di meja tamu itu, Noval meraih beberapa penganan yang masih terbungkus rapi di plastik. Kemudian satu-satu, oleh adik, penganan itu dimasukkan di toples.

Selesai sholat maghrib, Ibu bersegera ke dapur. Beliau hendak meneruskan pekerjaan memasaknya. Tiap malam lebaran, Ibu memang biasa memasak hingga larut malam. Kata Ibu, memasak hidangan hingga larut sudah menjadi tradisi tiap lebaran. Tentu, menu utama yang dimasak Ibu di malam lebaran adalah opor ayam dan ketupat. Selain itu ada sambal goreng kentang, pecel, dan krupuk.

Malam takbiran adalah malam yang penuh barakah. Dari pengeras suara, orang-orang bersautan mengangungkan nama Allah Swt. Banyak orang yang rela begadang hingga dini hari di masjid dan musholla sekitar rumah kami. Mereka membaca takbir secara bergantian. Tradisi meleki (menghidupkan) malam takbiran ini sudah ada turun temurun.

“ Jar, ayo wungu, sholat shubuh lebare ziarah “[1]. Tiba-tiba Ibu membangunkan. Hampir saja saya terlambat bangun. Ayah dan adik ternyata sudah mendahului saya untuk bangun. Mereka nampak baru saja shalat shubuh. Saya segera bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu, lalu shalat.

Ziarah jelang lebaran memang sudah menjadi tradisi, khususnya bagi umat Islam di Indonesia. Nah, di tempat tinggal saya, tradisi ziarah ini biasanya dilakukan pagi hari sebelum shalat idul fitri. Ada yang ziarah sehabis shubuh, menjelang shubuh, bahkan di waktu dini hari, Ketika adzan shubuh masih berselang beberapa jam.

Barangkali tak ada masjid yang sepi kala shalat idul fitri tiba. Masjid di kampung saya pun pasti penuh sesak. Jamaah shalat id yang hadir di masjid membeludak. Sebagian jamaah terpaksa tak bisa masuk masjid. Mereka yang datang terlambat, dengan beralas terpal harus rela shalat di halaman masjid. Usai shalat, jamaah shalat idul fitri bersalam-salaman. Tentu saja, laki-laki dengan laki-laki. Perempuan dengan perempuan. Salam-salaman ini adalah momen yang selalu saya tunggu di tiap lebaran. Setelah semua jamaah bersalaman, acara dilanjutkan dengan ramah tamah, sembari menyantap hidangan yang sudah disediakan di halaman masjid. Tradisi makan bersama ini menjadi satu hal yang tak boleh dilewatkan.

Warga sekampung memang sudah bertemu, juga bersalaman kala di masjid. Tapi tradisi lebaran di tempat kami tentu tak berhenti disitu. Usai melaksanakan shalat Id dan pulang ke rumah masing-masing, seluruh orang kemudian menghambur kembali ke jalan. Ada tradisi saling berkunjung untuk silaturahim. Anak-anak bersilaturahim ke orang tuanya, cucu-cucu bersilaturahim ke kakek neneknya, para santri bersilaturahim ke Kyainya dan seterusnya. Semua datang untuk saling berkunjung. Tiap orang akan berkeliling sekampung untuk bersilaturahim guna meminta maaf atas tiap kesalahan. Nah, di dalam tradisi silaturahim inilah ada lagi tradisi wajib untuk mencicipi tiap camilan dan hidangan pemilik rumah. Kenapa disebut wajib, sebab si pemilik rumah akan merasa kurang ‘legowo’ jika si tamu yang berkunjung ke rumahnya tak mau mencicipi suguhannya. Maka, hitung saja, jika di hari raya itu, saya bersilaturahim ke dua puluh orang, berapa kali saya mesti menyantap camilan dan makan. Hehe…

Demikianlah, sepenggal kisah lebaran di rumah kami, dan kampung kami. Kisah setahun lalu, semoga tahun ini pun, saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan tradisi-tradisi yang selalu ngangeni ini, amiiin….  

 

 

 

 

 

[1] Jar, ayo bangun, sholat shubuh lalu ziarahwidth=


TAGS   ngaBlogburit2015 /


Author

In'am Al Fajar
penikmat kopi dan buku. blog lainnya : http://catatanpakguru.web.id

Recent Post

Recent Comments

Categories

bulan menulis