Wonosobo [punya] cerita

Rumput Tetangga Lebih Hijau, Masak Sih ?

21 Aug 2013 - 20:42 WIB

Seorang kawan berkisah tentang diri, istri dan kehidupan rumah tangganya. Dalam hitungan tahun, kawan satu ini memang baru membangun rumah tangga. Kurang lebih dua tahun berjalan. Tapi hebatnya, dia sudah mampu mandiri. Tak lagi tinggal bersama orang tuanya, dan telah memiliki tingkat ekonominya yang lumayan mapan. Kehidupan rumah tangganya juga terbilang harmonis dan bahagia. Keluarga kecil ini juga telah dikaruniai si buah hati.

Namun ibarat sebuah bahtera yang tengah meninggikan layarnya menyusur luas samudera, tak jarang ada juga badai dan ombak merintang. Kerikil dan riak tak jarang menerpa perjalanan bahtera keluarga kecil ini. Wajar memang sebenarnya. Rumah tangga tanpa cobaan, ibarat sayur tanpa garam. Begitu kata orang.

Satu diantara kerikil itu adalah godaan rumput tetangga lebih hijau. Sesuatu yang tak dimiliki diri, terkadang terlihat lebih indah dan berkilau. Setiap yang dimiliki oleh orang lain nampak lebih bagus dari yang kita miliki. Dalam ranah keluarga, kadangkala anggapan ini juga menjangkiti pikiran suami pada istrinya, dan sebaliknya.

Ketika tengah berkendara di jalan raya misalnya, tak jarang si suami melihat sosok wanita yang lebih berkilau dibanding istrinya. Begitu pun si istri sangat mungkin menemukan sosok laki-laki yang dianggap lebih dari suaminya sendiri.

Anggapan dan pikiran semacam ini jelas tak bisa dibiarkan. Karena bila tak segera dipadamkan, lambat laun bisa mengancam keutuhan rumah tangga. Boleh jadi mata mengatakan bahwa rumput tetangga lebih hijau. Mata boleh saja lamur oleh kilau. Tapi sikap tak boleh semata terambil dari setiap yang ditangkap oleh mata.

Karena sebenarnya apa yang dibawa mata itu tak selamanya benar. Bisa jadi apa yang dianggap mata itu lebih hijau, ternyata tak mesti lebih hijau dalam kenyataannya. Tak juga mesti cocok dan sesuai untuk kita.

Boleh jadi juga rumput itu memang lebih hijau, tapi apakah juga memiliki akar lebih kuat, sehingga tak mudah roboh oleh sapuan angin. Kita jelas tak benar-benar tahu tentang ini.

Akhirnya, Kesadaran hati untuk bersyukur adalah modal penting untuk membina sebuah rumah tangga. Apa yang terlihat lebih “hijau”, harus kita sadari juga memiliki kekurangan. Begitupula suami dan istri kita, Ia dalam mata kita memiliki kekurangan juga pasti mempunyai kelebihan yang tak sedikit jumlahnya.

Bukankah dulu, sebelum akad suci itu terucap, kita sudah memantap-mantapkanhati untuk mengarungi hidup bersama suami atau istri kita. Lalu kenapa sekarang, kemantapan itu goyah begitu saja lantaran melihat pemandangan di ujung sana, padahal belum tentu lebih baik dan pas buat kita. Pertanyaan sebenarnya adalah bukan mengapa rumput tetangga lebih hijau kelihatannya, tapi bagaimana agar rumput di pelataran kita tetap hijau, tumbuh subur dan keindahannya, sepanjang waktu.

Salam.


TAGS   Pernik / Keluarga /


Author

In'am Al Fajar
penikmat kopi dan buku. blog lainnya : http://catatanpakguru.web.id

Recent Post

Recent Comments

Categories

bulan menulis