Wonosobo [punya] cerita

Ustad, Tarif, Ikhlas dan Dakwah

20 Aug 2013 - 20:30 WIB

Entah siapa yang benar. Dan entah siapa yang salah. Entah juga klaim siapa yang paling jujur. Tulisan ini tak hendak mengusik apalagi memperkeruh polemik yang terjadi antara Ustad Solmed dengan sebuah EO. Bukan juga mau membincang tentang si ustad, tentang konon sebuah tarif dakwah dengan nilai fantastis, dan tak juga bakal membahas setiap hal terkait itu. Saya pikir, tak punya cukup kapasitas untuk untuk membedah itu semua.

Melihat kian “seru” nya pemberitaan kasus ini di layar kaca, saya hanya jadi ingat pada satu kisah pak Kiai. Lebih tepatnya pak Kiai Haji. Dalam tataran masyarakat sebutan Kiai haji dengan singkatan KH, tentu lebih tinggi dari sebutan Ustad dengan singkatan Ust. Stop, jangan salah sangka dulu, tak ada secuil pun maksud saya untuk membandingkan keduanya.

Alkisah, seperti yang saya pernah baca di sebuah buku, KH. Bisri Mustofa, ayahanda dari Gus Mus, diundang untuk menjadi penceramah pada sebuah pengajian. Memang, KH. Bisri Mustofa, selain dikenal sebagai seorang Kiai yang produktif dalam menulis, beliau juga masyhur sebagai singa panggung. Pembawaan Kiai yang khas dan tegas membuat jadwal cermaah beliau tak pernah berhenti. Beliau tak jarang di undang kemana-kemari untuk berceramah.

Nah, di satu kesempatan itulah cerita menarik terjadi. Saat itu KH. Bisri telah bersiap untuk berangkat ke tempat tabligh. Seperti biasanya, Beliau mengajak seorang santri untuk mendampinginya. “Alhamdulillah, kesempatan baik nih” mungkin begitu gumam si santri. Bukan kepalang senangnya si santri diajak oleh Kiai nya . Dengan langkah takzim si santri pun mengikuti perjalanan Kiainya.

Di setiap perjalanan untuk bertabligh, ternyata KH. Bisri punya kebiasaan unik. Sebelum sampai ke tempat tabligh, beliau selalu menyempatkan diri singgah di sebuah tempat makan. Beliau dahar (makan) di tempat yang disinggahi itu dulu. Si santri yang sedari tadi mengikuti beliau pun diajak makan oleh Kiai bisri. Tapi aneh, si santri menolak ajakan Kiai nya.

Bukan lantaran tak lapar, karena sejatinya perut si santri keroncongan. Si santri ini tak mau makan, lantaran berpikir ” Makannya nanti saja lah di tempat pengajian, pasti enak-enak “.

Dan begitulah, usai makan malam, Kiai Bisri melanjutkan perjalanannya. tak begitu lama sampailah Kiai Bisri di tempat acara. Melihat jama’ah yang telah menyemut dan menunggunya disana. Kiai Bisri langsung bergerak menuju tempat berlangsungnya tabligh, beliau tidak mengiyakan ajakan panitia untuk istirihat sembari menikmati sugatan (makanan) yang disediakan panitia terlebih dahulu.

Kecewa. Si santri yang pengikut Kiai Bisri pun lantas kecewa. Harapan besarnya untuk menikmati jamuan di tempat tabligh gagal. Selesai memberi ceramah pun, Kiai Bisri langsung bergegas pulang. Dan sekarang benar-benar pupus sudah harapan si santri. Ia pun terpaksa pulang ke Pesantren dengan menahan lapar berat.

Dus, lewat cerita sederhana terbetik beberapa pelajaran sebenarnya. Bagaimana Kiai Bisri memberi pelajaran untuk tak bersifat tamak. Lebih baik datang dengan perut terisi agar hati lebih tenang dan tak terusik dengan segudang harapan. Dengan begini niatan dakwah yang semata untuk Allah itupun pun InsyaAllah jadi kian terjaga. Pun demikian bila usai ceramah Allah menurunkan rizkinya lewat panitia acara pun jelas tak salah untuk diterima.

Alhasil, bila sudah begini baik sang Kiai, panitia, dan hadirin yang menyimak pengajian, InsyaAllah semua bakal beroleh pahala sebab niat yang ikhlas. Kiai ikhlas menyebarkan ilmunya tanpa mengharapkan pamrih, panitia ikhlas memberikan buah tangan pada Kiai sebagai ucapan terimakasih, dan hadirin ikhlas datang ke tempat tabligh semata untuk mencari ilmu. Hubungan mesra antara ketiganya akan terus terjalin. Reribetan tentang ini itupun tak bakal terjadi.


TAGS   Dakwah / Kiai Bisri Mustafa /


Author

In'am Al Fajar
penikmat kopi dan buku. blog lainnya : http://catatanpakguru.web.id

Recent Post

Recent Comments

Categories

bulan menulis