Wonosobo [punya] cerita

Merdeka Itu, Tak Takut Lagi

17 Aug 2013 - 20:47 WIB

Hari kemerdekaan kembali datang. Saya menyambutnya dengan penuh suka cita. Tepat sabtu ini (17/08), republik tercinta menggenapi usia kemerdekaannya ke enam puluh delapan . Tentu saja harapan kita sama, semoga dengan bertambahnya usia kemerdekaan ini, bangsa ini bisa kian maju, dewasa dan sejahtera kedepannya. Semoga saja, lewat perayaan hari merdeka yang saban tahun kita peringati, pelan-pelan kita juga bisa meresapi, membenamkan, lalu menumbuhkan semangat merdeka itu di dalam dada.

Lalu kalau misalnya, saya seorang guru atau dosen, dan tiba-tiba saja anda mengacungkan jari, dan bertanya. ” Menurut Anda sendiri arti merdeka di jaman ini itu apa?”. Maka saya akan tangkas menjawab, merdeka itu berarti tak takut lagi. Sudah barang tentu tak takut dalam arti positif.

Tentang rasa takut ini, ingatan saya kembali terbuka pada sebuah poster yang saya lihat pekan lalu. Kala itu, saya sedang ikut mengantri untuk pembuatan Surat Izin Mengemudi alias SIM. Nah, satu dinding bagian gedung tempat itu, mata saya menangkap sebuah poster ukuran lumayan jumbo bertuliskan ” Berani Jujur Itu Hebat”.

Saya kemudian membatin. Setelah “kegagalan” slogan “Korupsi No” yang dahulu sering muncul di layar kaca, kini slogan ” berani jujur itu hebat” itu tampil menjadi slogan baru anti korupsi. Bila slogan yang disebut pertama secara tegas berisi larangan, maka di slogan kedua ini, dengan nada lebih persuasive kita seakan dinasehati ” Kalo anda jujur, berarti anda orang hebat”. Dan meski tanpa menyebut kata korupsi secara langsung, rasa-rasanya slogan kedua ini lebih mengena.

Mungkin sama halnya dengan perkataan seorang ibu tatkala melihat buah hatinya sedang usil mencorat-coret dinding rumah. Saat si Ibu berkata dengan nada gemas dan jengkel ” Jangan dicoreti temboknya !” Ada dua kemungkinan yang bakal terjadi. Pertama, si anak benar-benar akan menyetop aksinya, dengan tak akan lagi mencoreti dinding lantaran rasa takut pada Ibunya. Dan kedua, si anak, bukannya menghentikan aksi corat-coretnya, tapi justru kian menjadi lantaran dilarang. Yang dilarang-larang itu justru kian membuat si anak penasaran untuk melakukannya.

Tapi coba bandingkan, bila seandainya, Si Ibu bertindak lebih kreatif. Saat melihat aksi kreatif anaknya mencoreti dinding. Si Ibu mengambil tindakan yang tak kalah kreatif juga, Ibu tak akan memarahi langsung si anak namun justru mengambil misalnya sebuah buku gambar, dan berkata ” Kalau adek bisa menggambar di buku gambar ini, adek hebat deh”. Hemm. Bukankah teramat beda dengan tindakan yang pertama.
Mungkin sampai disini kita usaikan saja pembahasan dua slogan ini. Satu hal penting yang rasa-rasanya patut kita catat, bahwa tindakan korupsi tak akan pernah mereda apalagi musnah di negeri ini sampai ada sikap berani dan tak takut lagi untuk melawannya. Sudah saatnya seluruh elemen bangsa bersikap untuk tak takut lagi alias berani mengeyahkan perasaan tak tegas dan rasa plin-palan dalam menindak korupsi.

Beranjak dari soal korupsi, sindrom keberanian untuk bersikap tak takut lagi juga diperlukan bagi setiap orang yang ingin meraih kemajuan. Sudah saatnya kita mewujudkan satu persatu cita-cita luhur dalam kehidupan kita. Bersikap untuk tak takut lagi untuk berpayah dalam proses pembelajaran, tak takut lagi untuk jatuh bangun dalam menggeluti usaha impian kita, dan tentu tak takut lagi untuk terus menempa diri untuk bersikap jujur, hidup sederhana dan selalu berposes menjadi seorang yang lebih bermanfaat bagi sesama. Saat kita dan bangsa ini berani untuk bersikap tak takut lagi dalam menghadapi setiap pasang surut gelombang kehidupan, disanalah bakal kita dapati arti kemerdekaan sebenarnya.
Salam. Merdeka.


TAGS  


Author

In'am Al Fajar
penikmat kopi dan buku. blog lainnya : http://catatanpakguru.web.id

Recent Post

Recent Comments

Categories

bulan menulis